[Pidato sambutan tertulis mantan Perdana Menteri Mohammad Natsir pada Seminar Islam Internasional di Colombo Srilanka, Maret 1982. Judul ...
[Pidato sambutan tertulis mantan
Perdana Menteri Mohammad Natsir pada Seminar Islam Internasional di
Colombo Srilanka, Maret 1982. Judul tulisan ini dikutip dari pernyataan
Jenderal Panggabean, Menteri Pertahanan RI yang bergama Kristen]
Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Pertama-tama saya ingin menyampaikan rasa
menyesal yang sedalam-dalamnya, karena situasi yang tidak dapat saya
hindari, saya tidak dapat hadir dalam dialog yang terhormat ini.
Izinkanlah saya pada permulaan kata-kata
saya ini untuk menyampaikan rasa hormat saya terhadap semuangat yang
tidak dapat dikalahkan dari para pemimpin baik pria maupun wanita, di
pulau yang indah ini, yang perjuangan mereka yang terkenal untuk
persatuan dan toleransi, telah menimbulkan perasaan bangga dalam diri
kita semuanya.
Dengan mengingat kembali perjuangan Sri
Lanka yang panjang, dan sesuai dengan tradisi Bersatu dalam Keagamaan,
maka kitanya wajarlah kalau kita merasa bersimpati terhadap Pemerintah
dan rakyat pulau ini, yang disebabkan oleh keramah-tamahan mereka yang
hangat, dialog kita ini dapat berhasil baik.
Dengan memperhatikan sepintas lalu
masalah-masalah yang terdapat dalam acara di depan kita, maka tampaklah
bagi kita dengan jelas luasnya rentang dan banyaknya ragam pokok-pokok
persoalan yang menjadi perhatian kita bersama, dan juga tampak
bidang-bidang di mana kita mungkin melakukan kerjasama, yang mencakup
demikian banyaknya proyek-proyek lapangan dan berbagai jenis kegiatan.
Hal itu menimbulkan suatu perasaan senang pada kita, karena dapat
merampungkan sesuatu, dan usaha yang tidak mengenal lelah yang dilakukan
pada sponsor dialog ini telah membuat kita merasa bahwa kita telah
mempunyai perlengkapan yang cukup untuk tinggal landas, dan memberikan
sumbangan kita bagi peningkatan arti dialog ini.
Dengan tidak mengesampingkan pokok
permasalahan yang terdapat dalam agenda, dan saya mengharap agar
semuanya itu dapat diperbincangkan dengan baik, maka saya cenderung
untuk berpendapat bahwa pada saat sekarang ini, kiranya akan baiklah
bagi semua kita , jika kita meluangkan waktu untuk mempertanyakan dan
meninjau kembali hasil dari usaha-usaha yang telah dilakukan dalam
dialog-dialog yang terdahulu dan menguji kejujuran kita, sehingga dialog
ini dapat menjadi sarana yang penuh arti.
Jika gagasan dialog itu dapat
dipertahankan, dan menimbulkan harapan yang besar, maka ini adalah
disebabkan karena ia dianggap sebagai usaha yang sungguh-sungguh untuk
mencari alternatif yang benar terhadap dilema ketidak-harmonisan dan
pertikaian yang tidak tertahankan yang ada sekarang ini.
Memang banyak hal-hal yang telah
dilakukan untuk menunjukkan segi-segi persamaan tujuan dan maksud di
antara kita, tetapi hal-hal yang harus dilakukan masih jauh lebih banyak
lagi.
Untuk menyegarkan ingatan kita kembali,
izinkanlah saya menunjuk kembali kepada hasil-hasil gemilang yang telah
dicapai konferensi “Missi Kristen dan Dakwah Islam” yang telah
diorganisir oleh Panitia Missi dan Penginjilan Dunia, Dewan Gereja
Dunia, Jenewa, yang berlangsung di Chambesy, bulan Juni 1976, dengan
berkonsultasi dengan the Islamic Foundation, Leicester, dan Pusat Studi
Islam dan Hubungan Islam-Kristen, Selly Oak College, Birmingham. Tujuan
konferensi itu adalah meningkatkan saling pengertian antara orang-orang
Islam dan Kristen dan untuk mengkaji kemungkinan untuk mencari suatu
MODUS VIVENDI yang akan dapat menjamin adanya kesejahteraan rohani bagi
semua pihak.
Terutama saya menunjuk kepada alinea 6 dari Pernyataan Konperensi yang kata-katanya disusun sebagai berikut:
“Para peserta Kristen menyampaikan rasa
simpati sebesar-besarnya kepada saudara-saudara mereka yang beragama
Islam karena tindakan-tindakan yang secara moral salah, yang telah
diderita oleh dunia Islam yang telah dilakukan oleh orang-orang
Kolonial, neo-kolonial, serta kaki-tangan mereka. Konferensi ini sadar
bahwa rasa curiga, tidak percaya dan ketakutan. Jangankan akan
bekerjasama untuk kebaikan mereka bersama, maka orang Islam dan Kristen
telah merasa terpisah dan asing satu dengan yang lain. Setelah
kolonialisme yang berlangsung lebih dari seabad lamanya, di mana di saat
itu orang-orang missi yang telah bekerja sama untuk kepentingan
negara-negara kolonial, baik dengan disengaja atau secara tidak sadar
maka orang Islam merasa enggan untuk bekerjasama dengan orang Kristen
yang telah mereka perangi sebagai agen-agen para penindas mereka.
Walaupun telah pasti bahwa waktunya telah tiba untuk membuka suatu
halaman baru dalam hubungan ini, orang Islam masih saja merasa enggan
untuk melakukan tindakan itu karena masih tetap saja curiga terhadap
iktikad orang Kristen.
Sebabnya karena memang telah menjadi
kenyataan yang tidak dapat dibantah lagi bahwa masih banyak kebaktian
missi Kristen dewasa ini yang dilakukan untuk maskud-maksud duniawi.
Mereka mengambil keuntungan dan kebodohan kaum Muslimin, dari kebutuhan
orang Islam terhadap layanan pendidikan, kesehatan, kebudayaan dan
sosoal, dari ketegangan dan krisis politik yang dialami kaum Muslimin,
dari ketergantungan ekonomi mereka, dari perpecahan mereka di bidang
politik, dan dari kelemahan-kelemahan mereka pada umumnya; maka
layanan-layanan missi ini telah digunakan untuk tujuan Kristenisasi,
dengan pengertian memperbanyak jumlah anggota masyarakat Kristen dengan
menggunakan alasan-alasan yang tidak spiritual. Baru-baru ini telah
ditemukan adanya hubungan antara layanan missi dengan jawatan intel
negara-negara besar. Hal ini telah memperkuat dan memperhebat situasi
yang telah cukup gawat. Konperensi ini mencela sekeras-kerasnya semua
penyalahgunaan diakonia (layanan) seperti itu.
Para peserta konferensi ini yang beragama
Kristen atas nama ke-Kristenan menyatakan diri tidak mempunyai hubungan
dengan layanan seperti itu yang telah merendahkan dirinya dengan
mempunyai suatu tujuan lain selain dari agape (kecintaan kepada Tuhan
dan tetangga). Mereka menyatakan bahwa setiap diakonia yang dilakukan
untuk suatu tujuan duniawi adalah adalah suatu alat propaganda dan bukan
merupakan pernyataan agape. Mereka sepakat untuk berusaha sekuat
mungkin dan menggunakan segala sarana yang ada pada mereka untuk
menjadikan gereja-gereja Kristen dan organisasi-organisasi keagamaan
dasar dengan sebaik-baiknya akan situasi seperti ini.
Saya ingin menegaskan kembali bahwa bagi
orang Islam Indonesia yang merupakan salah satu masyarakat Islam
terbesar di dunia, yang tanpa mereka pelaksanaan secara universal dari
hasil-hasil yang dicapai oleh dialog mana pun, sudah pasti akan dapat
dipertanyakan, maka alinea yang saya kutip tadi di atas memang telah
menimbulkan harapan dan dambaan untuk timbulnya suatu masa yang penuh
saling pengertian dan saling memahami antara orang Islam dan Kristen di
dunia umumnya dan di Indonesia khusunya.
Alinea itu juga memperlihatkan sepenuhnya
kebijaksanaan dasar Pemerintah Republik Indonesia, yang telah mengambil
prakarsa pada tanggal 30 Novemper 1967 mengadakan Konferensi Antaragama
di Indonesia, yang berlangsung di Jakarta, tetapi malang sekali bahwa
harapan dan dambaan kami itu tidak dapat direalisasikan karena penolakan
dari pihak-pihak saudara-saudara kami yang beragama Kristen. Unsur yang
paling utama dalam draft Piagam telah disusun sebagai berikut:
“…memberikan bantuan moral, spiritual dan
material dan berlomba-lomba dalam mendorong orang-orang yang tidak
ber-Tuhan untuk percaya kepada Tuhan YME, dan tidak menjadikan
masyarakat-masyarakat beragama lain sebagai sasaran untuk
menyebarluaskan agama mereka masing-masing.”
Saudara Ketua,
Walaupun orang Kristen tidak sesuai
dengan draft itu, maka Menteri Pertahanan di waktu itu, Jenderal
Panggabean yang juga seorang Kristen yang taat, telah menegaskan kembali
dalam pertemuannya dengan para ulama di Aceh tanggal 28 Oktober 1974,
bahwa Pemerintah Indonesai tidak menyetujui Kristenisasi.
Lagi pula, hubungan antara masyarakat
Islam dan Kristen di Indonesia telah memburuk sampai ke tingkat yang
jauh. Marilah kita perhatikan langkah-langkah yang telah memburuk sampai
ke tingkat yang jauh. Marilah kita perhatikan langkah-langkah yang
telah diambil oleh Pemerintah Indonesia untuk menciptakan ketenteraman
dan kestabilan antara berbagai masyarakat beragama. Hal ini dibuktikan
oleh berbagai peraturan preventif yang telah dikeluarkan oleh Departemen
Agama.
Bagi orang Islam Indonesia, agaknya
konsensus etsi yang berupa Modus Vivendi seperti yang telah dikemukakan
oleh Konferensi Chambesy tentang: “Missi Kristen dan Dakwah Islam”
seperti yang telah diikuti di atas, adalah merupakan suatu janji. Kami
akan menghormati segala kewajiban yang timbul sebagai akibat
daripadanya, dan dalam melakukan hal itu, kami juga berharap pihak lain
juga berlaku seperti itu pula.
Rev. J. Spencer Trimmingham, bekas Kepala
Departemen Bahasa Arab dan Studi Islam di Universitas Glagsow, dalam
bukunya yang berjudul Gerakan Kristen dan Islam di Afrika Barat, telah
menyatakan:
“Kita harus ingat bahwa sikap orang
Kristen terhadap Islam pada umumnya menentukan sikap orang Islam
terhadap agama Kristen. Orang Kristen dan Islam, yang merupakan tetangga
di bidang material, masih harus banyak mempelajari hal-hal yang
berhubungan dengan perdamaian mereka.”
Saudara Ketua,
Saya memang percaya kepada kekuatan akal
sehat, kepada kemampuan kita untuk melihat ke balik halangan-halangan
sementara dan hambatan-hambatan psikologis sekarang ini, dan kepada
memahami pandangan yang transendental bahwa pada dasarnya umat manusia
ini adalah satu.
Dengan mengingat kembali kepada
perdamaian yang telah dicapai antara saudara-saudara kita yang beragama
Katolik dan Protestan, walaupun masih ada pertikaian-pertikaian yang
belum seluruhnya dapat dihilangkan, tetapi jelas bahwa konfrontasi yang
lama yang terdapat di antara mereka telah berubah menjadi perdamaian dan
bahkan juga tingkah kerjasama yang lebih besar.
Dengan pertolongan Tuhan, tidak mustahil
hal yang seperti itu juga akan terjadi antara orang Islam dan orang
Kristen di masa-masa mendatang.
Itulah sebabnya saya berpendapat bahwa
dalam proses dialog ini harus diberikan tempat yang penting bagi
menegaskan kembali prinsip-prinsip Modus Vivendi yang telah dinyatakan
dengan jelas sekali dalam Pernyataan Chambessy tentang “Missi Kristen
dan Dakwah Islam”
Di pihak kami, terdapat orang-orang yang
mempunyai harapan untuk umat manusia, yang melihat terdapatnya potensi
yang amat besar dari keharmonisan kehidupan beragama, dalam menghadapi
berbagai ketidakpastian yang terdapat di dunia.
Titik ini benarlah yang harus selalu kita
jaga terus-menerus, karena harga yang harus dibayar dari kegagalannya
mungkin berbentuk pepecahan yang telah pasti akan amat memperngaruhi
dasar raison d.etre dari dialog kita ini sendiri di masa mendatang.
Pada akhirnya, saya mereka berkewajiban
untuk meminta maaf kepada Saudara Ketua dengan sejujur-jurunya, atas
kata-kata saya yang terus terang, saran saya yang bersahabat, dan
lebih-lebih lagi, rasa hormat dan penghargaan saya yang
setinggi-tingginya. Terima kasih.
Srilanka, 26 Maret 1982.
